Suntik Menyuntik Menjadi Satu

vaccination
Betapa malang anak lelaki saya ini. Bapaknya sibuk meneliti tentang tuberkulosis, ia sendiri tak sempat divaksin BCG di negeri yang peringkat tuberkulosisnya tertinggi kedua di dunia. Pasalnya unik. Di usia ke-40 hari, ia kami culik ke Belanda yang gagap terhadap tuberkulosis hingga lewat masa puncak vaksinasinya. Si kecil baru kembali ke Indonesia setelah usianya lebih dari empat bulan dan tepat ketika tes tuberkulin atau mantoux[1] hilang dari peredaran muka bumi pertiwi. Konsul kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah, jawaban yang didapatkan mendorong ke satu kesimpulan: sudahlah, tak perlu divaksin. Bahkan, jika divaksin pun di usia itu, efektivitasnya sudah turun di bawah 60%, menurut salah satu rujukan terkemuka yang kami telan matang-matang.

Saat tiba saya sekolah lagi dan balik ke Belanda, drama itu dimulai. Menjadi imigran dari Indonesia membuat kami harus melewati banyak perjanjian dengan De Gemeentelijke Gezondheidsdienst (GGD) – sebuah instansi pemerintah yang ditranslasikan secara harfiah menjadi The Municipal Health. Ya, mirip dengan Puskesmas. Hanya saja, Puskesmas di Indonesia sudah campur aduk antara program promosi kesehatan, pencegahan, sekaligus mengobati. Tak mau kalah dengan mal –one stop shopping gitu lah. Bahkan, Puskesmas bangga sekali jika jejeran pintu dalam bangunannya dihiasi tanda dokter spesialis.

Imigran yang baru datang ke Belanda akan diminta ke GGD untuk diperiksa tuberkulosis. Mereka yang dewasa akan dijepret di depan alat rontgen secara simultan: bulan pertama kedatangan, enam bulan kemudian, dan setahun kemudian. Bagi yang suka selfie, di sini dapat di-foto gratisan. Foto toraks[2], namanya. Sayangnya, foto hanya bisa dinikmati dalam warna hitam-putih. Tidak bisa dibuat berwarna meskipun sudah dibawa ke tukang fotocopy berprinter dengan selang tinta warna-warni atau ke Snapy sekalipun yang harganya super mahal sambil bilang, “Mas, di-print warna, ukuran A3!” Mereka yang masih kanak-kanak akan ditanya apakah sudah mendapatkan vaksin BCG atau belum. Jika belum, seperti anak saya, maka akan disodori jadwal tes mantoux –yang kali ini tersedia melimpah ruah dan gratisan. Dua kali, Bro!

Saya melihat muka anak saya dan membayangkan betapa perih hatinya setiap kali kami menyebut nama GGD.

ggd

Gedung GGD Rijmond. Sumber: http://www.yelp.com

Tapi, memang begitulah semestinya. Mereka yang belum divaksin harus diundang datang, disediakan secara gratis dan berkualitas, serta tidak menjadi program asal-asalan. Maksud saya, tidak asal memenuhi target capaian bulanan, triwulanan, atau tahunan yang dilaporkan ke dinas kesehatan. Kalau tidak datang, ya mesti dicari, ditelusuri, kalau perlu dinasehati dan diomel-omeli.

Sampeyan itu ngerti ndak sih, kalau sakitnya menular ke orang lain, sekampung bisa ikut sakit, bisa balik lagi ke sampeyan, kumannya bisa kebal padahal ndak ikutan pencak silat, sakit sampeyan tambah parah, duit negara habis, bis, bis, terkuras, dan kalau sudah habis, sampeyan minta duit ke siapa?

Begitu kalau kader tuberkulosisnya die hard. Tukang omel dan bermulut baja.

Tapi, kebanyakan orang kemudian merasa malu kalau terkena tuberkulosis. Minder. Bahkan, kalaupun Puskesmas-nya ada di seberang rumah, ada saja yang memilih jalan memutar, mengendap-endap, melewati aral melintang, ribuan onak dan duri, demi tidak ketahuan oleh tetangga. Ya, masyarakat kita masih menganggap tuberkulosis sebagai penyakit memalukan, layak dijauhi, tidak perlu diterima di tempat kerja, kalau perlu dikeluarkan, atau jangan pernah dikasih beasiswa. Pfiuh… Padahal, tuberkulosis dapat diobati dan obatnya gratis.

Sekali anak saya disuntuk tuberkulin, kami harus melakukannya lagi tiga bulan kemudian. Uniknya, tepat beberapa hari setelah kami registrasi di kantor walikota, surat datang dari arah yang tidak diduga-duga. Ada permintaan sertifikat dengan todongan pertanyaan: “Hey, anakmu sudah divaksin apa saja?” Kami yang tak pernah punya sertifikat vaksinasi selama di Indonesia sebagaimana sertifikat wisuda TK (plus dandanan menor ala-ala wisuda sarjana), lomba mewarnai, lomba tujuh belasan, apalagi manasik haji, sibuk mencari-cari catatan vaksin yang tertinggal di Indonesia. Jeprat-jepret, bubuhi tulisan bahasa Inggris ala kadarnya, dan dikirimkanlah ke pemerintah untuk menerima balasan yang membuat perut kami mules lagi membayangkan suntikan-suntikan berikutnya.

uitnodiging_a5_opendag_pralexander_2010-1

Salah satu pamflet CJG. Sumber: http://www.bo7kamp.nl

Ya, surat itu datanglah juga. Kali ini dari Centrum voor Jeugd en Gezin (CJG) yang berarti Center for Youth and Family. Tidak ada padanan yang pas dalam bahasa Indonesia. Pusat Pemuda? Nanti dikira Karang Taruna. Pusat Keluarga? Nanti disangka tempat penyuluhan KB. CJG ini bagian dari instansi pemerintah yang mengurusi kesejahteraan keluarga dan anak-anak muda sedari balita secara komprehensif. Ia rutin mengirimkan surat dan memanggil anak-anak sesuai usianya untuk pemeriksaan kesehatan tahunan, mendapatkan vaksin, dan penyuluhan kesehatan lainnya. Boleh dibilang semacam Posyandu dengan lima meja terkenalnya itu. Tapi, jika Posyandu itu tak mampu memaksa orangtua datang untuk diperiksa dan baru sanggup mengiming-imingi dengan bubur kacang ijo, ketan item, dan demo masak kecil-kecilan, CJG akan terus menyurati orangtua berkali-kali sampai si orangtua datang. Mirip-mirip polisi yang doyan melayangkan surat panggilan kesatu, kedua, dan ketiga sambil berharap-harap asyik bisa memanggil paksa sehingga terkesan di televisi sebagai aksi heroik.

Pemanggilan itu untuk tiga vaksinasi yang wajib dilakukan di Belanda. Kok beda dengan di Indonesia? Ya, beda karena setiap negara memiliki beban epidemiologi penyakit yang berbeda. Mereka melakukan penelitian dan melihat masalah penyakit infeksi apa yang dominan dan perlu tindakan pencegahan yang diselenggarakan secara publik dan mengikat. Penolakan? Bukan hanya di Indonesia yang punya kelompok anti-vaksin yang tersebar mulai Cilebut sampai Cibubur, dari Kuningan Cirebon sampai Kuningan Rasuna Said. Amerika punya kelompok fanatis sendiri, seperti juga di Belanda yang punya Bible Belt –area yang secara geografis membentuk ikat pinggang dan dihuni penganut Protestan konservatif yang menolak vaksinasi. Jadi, kalau ada kelompok yang menganggap vaksinasi sebagai upaya pelemahan agama tertentu dan bagian dari konspirasi Wahyudi, kapan-kapan boleh diajak plesiran agak jauh dikit, keluar dari kegenitan googling  dan copy-paste.

bible-belt

Ilustrasi geografis Bible Belt di Belanda dengan parameter vaksinasinya. Sumber: http://www.zorgatlas.nl

Anak lelaki saya itu akhirnya dirayu sedemikian rupa untuk bisa pergi ke CJG untuk mendapat tiga vaksin bombastis –yang kalau di Indonesia, Anda harus merogoh kocek sampai kantong Anda bolong sebenar-benarnya bolong: DKTP-HepB (Difteri, Kinkhoest [Pertusis], Tetanus, Poliomyelitis, plus Hepatitis B), MenC (Meningococcal C), dan  BMR (bof, mazelen and rodehond alias MMR). Combo hits! Di jalan, dia sudah bertanya-tanya seolah bapak-ibunya menyimpan misteri yang tidak boleh dibuka sampai dia dewasa. Untunglah, sebelum vaksin, ada waktu lumayan panjang karena ia diperiksa tinggi badan, berat badan, dan penglihatan. Nah, penglihatan ini yang masih luput dikerjakan di Indonesia tercinta. Dengan pola tempat duduk kelas, ada anak yang ‘menjadi tampak bodoh’ karena duduk di belakang, padahal bisa saja karena penglihatannya terganggu dan sudah semestinya menggunakan kacamata. Apalagi, dengan makin seringnya anak-anak terpapar gawai (gadget) yang dipelototi dari subuh sampai isya dan dianggap sebagai obat mujarab penawar kecengengan karena bapak-ibunya juga sibuk dan doyan melototi gawai sambil ketawa-ketiwi sendirian.

Akhirnya, kami masuk ke ruang dokter. Ada dua dokter perempuan, masih muda. Mungkin lebih muda dari kami. Satu dokter sudah pegawai tetap non-PNS (#halah), satu lagi pegawai magang yang dikader melanjutkan estafet dokter. Kalau kami mau, kami pun ditawari praktik di CJG itu yang juga sedang membuka lowongan dokter keluarga (huisart). Setelah mengobrol ke sana ke mari, menimbang manfaat dan mudharatnya, kami memutuskan dengan berat hati untuk langsung menyuntik TIGA vaksin itu di satu waktu. Satu di lengan kanan, satu di lengan kiri, satu di paha kanan. Dan, tak usah dibayangkan bagaimana prosesnya. Tangan saya mendekap, kaki saya memiting, dan anak saya –tentu saja, menangis sekuat tenaga. Untunglah, ia anak yang kuat. Tangisannya hanya bertahan sebentar. Mereda ketika ia lihat banyak mainan yang tersedia di CJG dan kami menghabiskan waktu sore hari di sana untuk mendamaikan hati yang kisruh dan semrawut.

whatsapp-image-2017-02-13-at-23-27-36

Periksa mata dengan piraat brill (kacamata bajak laut) yang bikin anak-anak senang. Berasa jadi Kapten Hook.

Lagipula, kami mengerti bahwa tangisannya harus dihemat. Karena dua hari lagi, anak lelaki saya itu harus disuntik tuberkulin lagi. Tiga hari setelahnya, ia dijadwalkan mendapat vaksin BCG (jika hasil tes tuberkulinnya tidak bermasalah). Kali ini, Anda boleh membayangkan betapa sulitnya kami merayu ia ke GGD. Boleh dibayangkan juga. Saya memboncengnya di jok belakang sepeda, ia menangis sepanjang jalan, lalu turunlah hujan salju pertama di Belanda tahun itu di pertengahan jalan tepat di samping danau yang dinginnya minta ampun, dan bercampurlah antara haru melihat salju dengan tangis takut disuntik berkali-kali. Beuh… Sama sekali tidak mirip dengan adegan Ikal dan Arai yang pertama mandi salju di akhir film “Sang Pemimpi”.

Setalah suntik BCG, Alhamdulillah, lengkaplah sudah LIMA SUNTIKAN dalam sepekan. Dan, usailah perkara suntik menyuntik menjadi satu itu.

Belakangan, anak lelaki saya itu boleh bangga. Dia bukan saja sudah disunat di usia jauh lebih muda daripada bapaknya, dia bahkan merasakan pengalaman suntik-menyuntik yang tidak pernah bapaknya rasakan untuk menjadi sekuat itu. Kami lantas menduga-duga, mungkin dia tak lagi punya cita-cita jadi dokter seperti bapak-ibunya, apalagi jadi juru suntik.

Rotterdam, Februari 2016

[1] Tes tuberkulin (tuberculin skin test) atau dikenal juga dengan tes mantoux adalah salah satu tes untuk menilai apakah seseorang pernah terinfeksi kuman tuberkulosis. Terinfeksi tuberkulosis belum tentu bermanifestasi menjadi penyakit. Di Indonesia yang kejadian tuberculosis-nya tinggi, orang dewasa bisa saja mendapatkan hasil positif dari tes tuberkulin, namun tidak disertai gejala khas tuberkulosis. Pada anak-anak, tes tuberkulin menjadi salah satu parameter diagnosis tuberkulosis. Bahkan, pada beberapa negara non-epidemi tuberkulosis, tes ini dijadikan satu-satunya alat diagnostik.

[2] Foto toraks: foto bagian dada dengan alat sinar X atau rontgen.

One thought on “Suntik Menyuntik Menjadi Satu

  1. Pingback: Anak Dokter Takut Dokter | aafuady.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s